Detail News

MASALAH PERILAKU MAKAN PADA ANAK DAN CARA MENGATASINYA

20 October 2018

Selain pemenuhan zat gizi makro dan mikro, pola pemberian makan anak juga menjadi faktor penting dalam perilaku makan anak

Jakarta, 20 Oktober 2018 – Isu malnutrisi pada anak, baik itu pada dua tahun pertama kehidupan atau seterusnya, masih menjadi tantangan bagi masa depan anak-anak Indonesia. Terlebih, tidak sedikit orang tua yang mengeluhkan sulitnya memberi makan anak. Padahal, pola dan jenis makanan yang dikonsumsi anak menjadi faktor penting untuk pemenuhan nutrisi dan kesehatannya. Melalui ‘Bicara Gizi’, Nutricia Advanced Medical Nutrition mengajak orang tua kenali jenis-jenis masalah perilaku makan pada batita, penyebab dan penanggulangannya.

Sebanyak 50%-60% orang tua mengeluhkan adanya masalah makan pada anak (Lindberg, et al. 1991). Studi di Chicago (Reau, et al. 1996) melaporkan bahwa masalah perilaku makan yang paling sering dijumpai pada batita adalah: tidak selalu lapar saat jam makan (52%), mencoba mengakhiri makan setelah beberapa suapan (42%), “picky eating” (35%), dan kuatnya preferensi makanan tertentu (33%). Sedangkan, masalah makan berdampak buruk terhadap kesehatan anak, seperti gangguan pertumbuhan, rentan terhadap infeksi, dan bahkan kematian[1].

“Tumbuh kembang anak sejak lahir sampai usia 2 tahun sangat pesat. Anak memerlukan pemberian makanan yang mengandung zat gizi mikro (protein, lemak, karbohidrat) dan makro (vitamin dan mineral) untuk mencapai tumbuh kembang optimal,” ujar dr. Nur Aisiyah Widjaja (Nuril) , SpA(K), Dokter Spesialis Anak Konsultan Nutrisi dan Metabolik. Dr. Nuril melanjutkan, “Tidak hanya jenis makanan, banyak yang belum paham bahwa pola pemberian dan perilaku makan juga berperan penting dalam menentukan masa depan anak.”

Selain jenis makanan yang salah, perilaku makan juga tidak kalah penting. Penelitian di Indonesia menunjukkan, masalah makan dapat diklasifikasikan menjadi inappropriate feeding practice, small eaters, dan parental misperception[2]. Inappropriate feeding practice adalah masalah makan yang disebabkan oleh perilaku makan yang salah ataupun pemberian makanan yang tidak sesuai dengan usia. Small eaters adalah terminologi yang dipakai untuk anak dengan keluhan makan sedikit, status gizi kurang, dan feeding rules benar. Sedangkan food preference merupakan terminologi yang dipakai untuk mencakup keluhan pilih-pilih makan atau penolakan terhadap makanan tertentu.

Dr. Nuril melanjutkan, “Ketiga masalah ini seringkali disepelekan dan perlu mendapatkan intervensi karena dapat mempengaruhi asupan nutrisi dan kondisi kesehatan anak. Jika terjadi secara berkelanjutan, terlebih di usia optimal hingga 2 tahun, anak terancam menderita malnutrisi yang berujung pada stunting.”

Terdapat tiga aspek tata laksana untuk mengatasi masalah makan, yaitu identifikasi faktor penyebab, evaluasi faktor dan dampak nutrisi, serta upaya perbaikan. Pada inappropriate feeding practice, orang tua perlu memperhatikan jadwal, lingkungan dan prosedur pemberian makan. Sedangkan pada kasus small eater, diperlukan penerapan aplikasi food rules yang benar, serta melakukan boosting kalori melalui makanan padat yang difortifikasi serta susu densitas kalori tinggi 0,9-1,2 kkal/ml atau densitas kalori 1,5 kkal/ml.

Arif Mujahidin, Corporate Communication Director Danone Indonesia menutup, “Kami berharap kegiatan Bicara Gizi, khususnya mengenai masalah perilaku makan pada anak, dapat meningkatkan kesadaran masyarakat serta mendorong penanganan nutrisi yang tepat bagi anak demi tumbuh dan kembang optimal dan masa depan yang cerah.”

 


[1] (Manikam, et al. 2000)

[2] (Sjarif, DR. 2011)