Detail News

PENTINGNYA DETEKSI DINI DAN PENANGANAN NUTRISI PADA PENYAKIT JANTUNG BAWAAN

26 September 2018

Melalui ‘Bicara Gizi’, Nutricia Advanced Medical Nutrition ajak orang tua kenali resiko genetik dan manajemen nutrisi Penyakit Jantung Bawaan pada anak

Jakarta, 22 September 2018 – Isu malnutrisi pada dua tahun pertama kehidupan masih menjadi tantangan bagi masa depan anak-anak Indonesia. Kondisi medis khusus seperti Penyakit Jantung Bawaan (PJB) pada anak dapat mempersulit pemenuhan nutrisi yang diperlukan, sehingga apabila tidak ditangani dengan tepat, dapat berujung pada gangguan pertumbuhan anak. Melalui “Bicara Gizi”, Nutricia Advanced Medical Nutrition mengajak puluhan Ibu mengenal tanda-tanda, hingga kebutuhan nutrisi anak dengan PJB untuk membantu tumbuh kembang yang optimal.

Arif Mujahidin - Corporate Communication Director Danone Indonesia mengatakan, “Kami menghadirkan ‘Bicara Gizi’ untuk membuka diskusi mengenai isu kesehatan dan nutrisi dengan orang tua. Dalam rangka Hari Jantung Nasional, Nutricia Advanced Medical Nutrition (NMN) mengajak para ahli, komunitas, serta rekan bloggers mengenai penanganan Penyakit Jantung Bawaan pada anak, salah satunya untuk mencegah terjadinya malnutrisi.”

Penyakit Jantung Bawaan (PJB) adalah penyakit yang diderita anak dengan kelainan pada struktur jantung atau fungsi sirkulasi jantung yang terjadi akibat adanya gangguan atau kegagalan perkembangan struktur jantung pada fase awal perkembangan janin. Berdasarkan letak dan tingkat keparahannya, lebih dari 34 jenis PJB telah teridentifikasi. Kebanyakan PJB tersebut menghambat aliran darah pada jantung dan pembuluh darah sekitarnya atau dapat menyebabkan aliran darah yang abnormal dari/ke jantung.

Angka kejadian PJB dilaporkan sekitar 8 – 10 bayi dari 1000 kelahiran hidup. Nafas pendek atau nafas cepat, susah makan, keringat berlebihan saat makan, sianosis (kulit, bibir dan kuku berwarna kebiruan) dapat menjadi tanda adanya penyakit jantung bawaan.  Jika tidak ditangani dengan baik, anak dapat menyebabkan pertumbuhan buruk dan kurang nutrisi (wasting/stunting), gangguan perilaku anak, gangguan saraf, infeksi saluran pernafasan yang berulang, hingga menyebabkan kematian. Untuk itu, kunci utamanya adalah deteksi dini yang dapat menentukan penanganan yang sesuai.” Jelas Konsultan Kardiologi Anak Dr. Dedi Wilson SpA(K).

Salah satu dampak dari PJB dalah ancaman malnutrisi yang dapat berujung pada kondisi stunting. Secara garis besar, malnutrisi pada anak dapat disebabkan oleh tiga hal; masukan kalori yang tidak adekuat, absorbs dan pemanfaatan yang tidak efisien, dan/atau peningkatan kebutuhan energi/ kalori.

Asupan yang tidak memadai terjadi akibat kesulitan makan karena susah menghisap, menelan, lelah saat makan dan adanya pembatasan cairan membuat anak dengan PJB membutuhkan penatalaksanaan nutrisi yang berbeda dengan anak yang lainnya.

“Prevalensi malnutrisi pada anak dengan PJB dapat mencapai 70%. Anak dengan penyakit jantung bawaan memerlukan asupan nutrisi yang agresif dan makanan tinggi kalori. Pemberian nutrisi enteral dan parenteral yang tepat dan pemantauan rutin menggunakan grafik pertumbuhan yang sesuai dapat membantu anak dengan PJB untuk terhindar dari kondisi serius lainnya yaitu malnutrisi dan stunting yang dapat memperburuk kesehatannya.” Ujar Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik Anak Dr. Klara Yuliarti SpA(K).

Arif Mujahidin menutup, “Kami berharap kegiatan Bicara Gizi dapat meningkatkan kesadaran masyarakat serta mendorong penanganan nutrisi yang tepat bagi anak dengan Penyakit Jantung Bawaan agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.”