Bila Dibiarkan, Kegemukan dan Obesitas Akan Menjadi Epidemi di Indonesia
12 Juni 2013

Di tahun 2025, Malaysia dan Singapura akan mencapai prosentase 30-an untuk angka kejadian diabetes dan pre-diabetes akibat kegemukan dan obesitas.

Indonesia menunjukkan tanda – tanda peningkatan. Pada tahun 2010, 14 persen dari balita Indonesia mengalami kelebihan gizi, meningkat dari 12.2% pada tahun 2007

Berita Foto #2Jakarta, 21 Maret 2013Double burden of nutrition (kekurangan gizi dan kelebihan gizi) merupakan masalah di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Ketika angka kekurangan gizi relatif menurun, angka kelebihan gizi dan obesitas menunjukkan tanda peningkatan pada semua kalangan sosio-ekonomi yang harus diantisipasi sejak dini. Prevalensi stunting pada anak secara relatif menurun dari 37% (2007) menjadi 35.6% (2010), sedangkan prevalensi gemuk pada anak meningkat dari 12.2% (2007) menjadi 14% (2010). Anak yang gemuk memiliki risiko untuk tetap gemuk atau menjadi obese di saat dewasa, yang pada akhirnya akan meningkatkan risiko terkena penyakit kronis seperti diabetes dan jantung. WHO memperkirakan bahwa pada tahun 2020 obesitas akan menghabiskan sekitar dua-pertiga pengeluaran kesehatan dunia.

Secara regional, kawasan Asia Tenggara dan Pasifik Barat saat ini juga sudah menghadapi beban penyakit yang berhubungan dengan obesitas, seperti diabetes dan penyakit jantung. “Saya melihat adanya sebuah tren yang terjadi di wilayah Asia Pasifik. Malaysia memiliki angka kegemukan dan obesitas yang paling tinggi, yaitu 38,9 persen. Angka yang didapat dari sebuah penelitian di tahun 2003 ini dua kali lebih banyak dibandingkan pada tahun 1997 (21 persen). Angka kejadian diabetes dan Impaired Glucose Tolerance (gangguan toleransi glukosa/pre-diabetes) di Malaysia juga sangat tinggi, yaitu 27 persen; hampir menyamai negara dengan kejadian tertinggi, yaitu Singapura pada 28 persen. Di tahun 2025, International Diabetes Federation memperkirakan kedua negara tersebut akan mencapai persentase 30-an,” jelas Dr. Jacques Bindels, Scientific Director Asia Pacific R&D Danone Baby Nutrition.

Saat ini, terdapat tiga besar penyakit tidak menular yang menyebabkan kematian di Indonesia antara lain stroke (26,9 persen), hipertensi (12,3 persen) dan diabetes (10,2 persen). Seluruh penyakit tersebut berhubungan dengan obesitas atau kelebihan gizi. WHO memprediksi Indonesia menghadapi peningkatan jumlah pasien yang menderita penyakit diabetes dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi 21,3 juta pada tahun 2030.

Dr. Jacques menambahkan, “Pesatnya globalisasi yang terjadi di negara-negara berkembang telah mengakibatkan peningkatan gaya hidup dan timbulnya penyakit yang diakibatkan perubahan gaya hidup tersebut. Obesitas yang semula diperkirakan terjadi pada „kalangan mampu‟ saja, ternyata terjadi pada seluruh lapisan masyarakat. Data Riskesdas 2010 menunjukkan bahwa angka prevalensi kegemukan dan obesitas di kalangan sosio-ekonomi bawah hampir menyamai kalangan sosio-ekonomi atas.”

“Gizi berlebih dan obesitas harus ditangani dengan perencanaan gizi yang tepat bagi anak-anak pada 1.000 hari pertama kehidupannya (usia dalam kandungan hingga usia dua tahun). Perencanaan gizi harus dilakukan oleh orang tua karena dapat membentuk landasan untuk masa depan kesehatan dan kesejahteraan anak-anak,” jelas dr. Widjaja Lukito PhD., SpGK, Pengajar pada Program Pasca Sarjana Program Studi Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran UI.

“Obesitas merupakan salah satu penyebab berbagai masalah kesehatan di masa depan. Untuk itu, investasi gizi pada seluruh tahap kehidupan, terutama dalam 1.000 hari kehidupan pertama bagi para ibu hamil, ibu menyusui dan dua-tahun balita sangat penting dalam menciptakan anak-anak, keluarga dan bangsa yang sehat, cerdas dan kuat,” tambah dr. Widjaja.

“Kemakmuran yang meningkat telah menyebabkan perubahan gaya hidup di kota-kota besar. Jika tren ini tidak diikuti dengan peningkatan pengetahuan orang tua tentang gizi yang tepat dan seimbang, obesitas atau kelebihan gizi pada anak-anak dapat terjadi. Itulah sebabnya Nutricia bekerja sama dengan para pakar gizi, nutrisi medis, dokter anak, dokter kandungan, bidan dan perawat untuk memberikan pendidikan gizi bagi para orang tua. Orang tua perlu memahami bahwa pemberian gizi yang tepat dan seimbang harus direncanakan sejak awal, bahkan sebelum kehamilan, terutama hingga anak berusia dua tahun,” tegas Swissanto Soerojo, Medical Director, PT Nutricia Indonesia Sejahtera (NIS).

Sebagai bangsa kita semua memiliki peran untuk memberikan kontribusi, dimulai dari kalangan industri, pemerintah hingga media. Kalangan media dapat memainkan peran penting dalam menyebarkan pemahaman secara luas kepada para orang tua Indonesia mengenai Early Life Nutrition (ELN) sebagai salah satu solusi menghadapi masalah beban gizi ganda, baik gizi berlebih dan obesitas maupun kekurangan gizi.

Unduh versi dokumen:

Press Release Editors Meeting General-Health